“DODOLITDODOLITDODOLIBRET”
Cerpen ini menceritakan seorang lelaki
bernama Kiplik yang merasa yakin telah menguasai dan mengamalkan “cara berdoa
yang benar”. Menurut hasil pengamatan Kiplik banyak sekali orang yang berdoa
dengan tidak benar, padahal jika kata-kata dalam sebuah doa yang diucapkan
salah, maka bukan saja menghasilkan makna yang berbeda, tetapi malah bisa
bertentangan. Dalam keyakinan Kiplik, “cara berdoa yang benar” itu haruslah
sempurna, yakni kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, waktunya terukur,
perhatiannya terpusat, dilandasi kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan,
seolah-olah sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada
lagi yang akan lebih benar. Dengan kebenaran cara berdoa yang dipraktikkan
Kiplik dalam kehidupannya, ia mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara.
Kebahagiaan yang diperolehnya membuat
Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan yang tidak ternilai, dan oleh sebab
itu ia selalu ingin membagikannya kepada siapa saja. Sebagai ahli ilmu berdoa,
Kiplik yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Guru Kiplik mengembara untuk
mengajarkan ilmunya kepada orang banyak , agar mereka dapat berdoa dengan benar
seperti dirinya, dan mencapai kebahagiaan seperti dirinya pula. Banyak orang
percaya dan merasakan kebenaran pendapat Guru Kiplik, serta menjadi
pengikutnya.
Sebagai seorang ahli berdoa, Guru Kiplik menyangsikan kebenaran sebuah dongeng lama, bahwa siapa pun yang berdoa dengan benar akan mampu berjalan di atas air. Menurut Guru Kiplik dongeng itu hanyalah perlambang untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan diperoleh siapa pun yang berdoa dengan benar.
Sebagai seorang ahli berdoa, Guru Kiplik menyangsikan kebenaran sebuah dongeng lama, bahwa siapa pun yang berdoa dengan benar akan mampu berjalan di atas air. Menurut Guru Kiplik dongeng itu hanyalah perlambang untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan diperoleh siapa pun yang berdoa dengan benar.
Suatu ketika, Guru Kiplik mengembara ke
sebuah pulau terisolir di tengah sebuah danau yang sangat luas. Pulau itu subur
makmur sehingga penghuninya tidak perlu keluar pulau untuk mendapatkan
kehidupan yang lebih layak. Guru Kiplik mendapati sembilan orang penduduk pulau
tersebut yang rajin bekerja dan tidak putus-putusnya berdoa. Namun cara berdoa
yang mereka lakukan ternyata salah di mata Guru Kiplik. Untuk itu ia merasa
terpanggil mengubah cara berdoa mereka yang salah tersebut, sebab menurutnya
cara berdoa penduduk pulau tersebut justru memohon kutukan bagi diri mereka
sendiri. Dengan susah-payah akhirnya Guru Kiplik berhasil mengajari mereka
“cara berdoa yang benar”.
Unsur-Unsur Intrinsik
Cerpen Dodolitdodolitdodolibret
1. Tema
Berdoa dengan
benar.
2. Latar
Kampung,
beberapa Negara, Danau, Pulau terpencil.
3. Sudut Pandang
Orang ke tiga serba tau , dari
paragraf ini dapat dilihat bahwa orang ketiga mengetahui segala hal
baik kiplik ,maupun pikiran kiplik.
Dapat diketahui dari kalimat :
Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai
seseorang setelah mampu membaca do’a secara benar, akan membebaskan tubuh
seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa
berjalan di atas air.
4. Alur
Alur adalah
susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita dan pada cerpen
dodolitdodolitdodolibret menggunakan alur maju.
Alur meliputi beberapa tahap :
a. Pengantar : Dalam pengantar ini
dijelaskan mengenai tempat kejadian berlangsung seperti beberapa
kampung, beberapa negara, sebuah danau, dan pulau terpencil. Hal tersebut
dibuktikan dari kalimat “Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari
lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan
di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan
memperkenalkan cara berdoa yang benar.” , “Suatu ketika dalam perjalanannya
tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau.”, “Namun, akhirnya ia pun sampai juga
ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur
begitu rupa.”
b. Penampilan masalah : Penampilan
masalah merupakan bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
Pada cerpen dodolitdodolitdodolibret masalah berawal ketika ragu akan
pesan dari dongeng yang dibacanya yangmenyatakan betapa siapapun orang
yang berdoa dengan benar akan mampu berjalan diatas air.
c. Klimaks : Masalah dalam cerita sudah
sangat gawat. Dalam cerpen dodolitdodolitdodolibret diungkapkan
dalam kalimat “ Kiplik memang bisa membayangkan bagaimana kebesaran jiwa yang
dicapai seseorang setelah mampu membaca doa dengan benar akan mampu membebaskan
tubuh seseorang dari keterikatan duniawi dan salah satu keterlibatannya adalah
dapat berjalan diatas air”. Berarti dari kalimat ini dapat dijelaskan
bahwa sosok si Kiplik sudah mampu memahami istilah cara berdoa dengan benar
akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi salah satu
perwujudannya adalah dapat berjalan diatas air.
d. Ketegangan menurun / antiklimaks
: Masalah telah berangsur-angsur dan dapat diatasi dan kekhawatiran mulai
menghilang. Dalam cerpen ini antiklimaks dijelaskan dalam kalimat “Namun,
ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang
bagaimanapun betapapun masuk akalnya istilah betapa siapapun orangnya
yang berdoa dengan benar akan mampu berjalan diatas air, tidak harus
berarti akan terwujud sebagai kenyataan dalan pengertian dapat dilihat dengan
mata sendiri “, “dongeng itu hanyalah
perlambang (pikirnya). Untuk menegaskan dalam pikiran siapa saja yang berdoa
dengan benar,”
e. Penyelesaian/ resolusi :
Masalah dapat diatasi. Resolusi dari cerita ini ditampilkan pada kejadian
ketika Kiplik berlayar ke suatu pulau yang terpencil di tengah danau untuk
mengajarkan cara berdo’a dengan benar. Namun dia terkejut karena meskipun pulau
tersebut terpencil, sembilan dari penduduk pulau tersebut bekerja dan
berdoa tiada putus-putusnya. Akan tetapi doa yang dilafalkan tidak benar
sehingga seolah mereka berdoa dengan memohon kutukan untuk diri mereka sendiri.
Lalu dengan sabar si Kiplik menuntun
mereka untuk berdoa dengan benar, tetapi mereka selalu salah sehingga
Kiplik putus asa. Berkat kesabaran Kiplik yang luar biasa akhirnya kesembilan
orang tersebut dapat berdoa dengan benar.
5. Perwatakan:
Tokoh : Kiplik
a. Seseorang
yang mempunyai sifat ingin tahu yang besar, ia ingin menyebarkan kebahagiaan
untuk sesamanya dengan cara mengajarkan berdoa dengan benar.
b. Sifat
pantang meyerah, hal itu terbukti dari saat ia ingin mengajarkan cara
berdoa yang benar kepada orang yang hidup di pulau yang jauh
ditengah danau. Dia tidak putus asa dan pantang menyerah walaupun
menempuh jarak yang lama dan perjalanan yang cukup berbahaya karena tidak semua
kapal dapat mencapai pulau yang sering disebut pulau noktah tersebut.
c. sifat
sabar, yang terbukti dalam kesabaran Kiplik yang luar biasa dalam mengajarkan
berdoa yang benar kepada kesembilan orang tersebut.
6. Nilai/ Amanat yang ingin disampaikan dalam
cerita :
Pahamilah dan bacalah doa dengan
benar karena dengan cara itu maka akan dapat membebaskan tubuh seseorang dari
keterikatan duniawi dan mendapatkan kebahagiaan semasa hidupnya.
Nama: Desi Rahayu
Kelas : C4
Bhs. Indonesia
Terima kasih atas jawabannya. Saya dan teman saya sangat terbantu sekali
BalasHapus